
KARAWANG – BERITA BRANTAS.CO.ID
KH Muhammad Endang Suratno Wibowo mulai mengonsolidasikan kekuatan pesantren, akademisi, pengusaha, profesional dan aktivis untuk membangun gerakan bersama bernama Wibawa Nusantara.
Konsolidasi digelar di RM Lebak Sari Indah, Jalan Interchange, Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang, Minggu (30/8/2026).
Pertemuan tersebut menegaskan satu agenda mengubah potensi bangsa yang berjalan sendiri-sendiri menjadi kekuatan bersama.
KH Muhammad Endang Suratno Wibowo memperkenalkan konsep “Ekosistem Peradaban Wibawa Nusantara”.
Konsep ini bertolak dari pandangan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, teknologi dan infrastruktur.
Menurut KH Muhammad Endang Suratno Wibowo, bangsa ini membutuhkan kebangkitan kesadaran spiritual, intelektual, kebangsaan dan ekonomi. Kesadaran itu harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata.
“Kita tidak sedang membangun sebuah perkumpulan. Kita sedang membangun ekosistem yang memungkinkan potensi- potensi bangsa saling terhubung, saling menguatkan, kemudian melahirkan peradaban,” tegas KH Muhammad Endang Suratno Wibowo.
Ia menempatkan iman sebagai fondasi dan peradaban sebagai tujuan. Ekonomi harus dibangun dengan moral, teknologi dengan etika dan kekuasaan dengan tanggung jawab.
Wibawa Nusantara kemudian dirumuskan melalui enam kekuatan: iman, ilmu, networking, gerakan, ekonomi dan peradaban.
Targetnya jelas. Wibawa Nusantara tidak boleh berhenti sebagai forum diskusi. Gerakan ini harus melahirkan program konkret di bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial, kepemimpinan, filantropi dan kebangsaan.
SANTRI HARUS MENJADI PENCIPTA LAPANGAN KERJA
Transformasi santri menjadi salah satu agenda utama.
KH Muhammad Endang Suratno Wibowo menilai santri tidak boleh terus diarahkan hanya menjadi pencari kerja. Santri harus memiliki keberanian dan kemampuan menjadi pengusaha, ilmuwan, akademisi, profesional, teknolog, pemimpin, petani modern, inovator, diplomat, birokrat dan pencipta lapangan kerja.
Pesantren harus melahirkan manusia yang memiliki pilihan, bukan manusia yang hanya menunggu pekerjaan.
“Pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Pendidikan harus menjadi mesin mobilitas peradaban,” ujarnya.
Ketua Umum Silaturahmi Orang Banten (SORBAN), Abah Awaman, mengawali diskusi dengan pertanyaan mendasar.
“Kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk negara dan bangsa?”
Pertanyaan tersebut menjadi arah pembahasan. Para peserta didorong tidak hanya berbicara tentang potensi, tetapi mulai menentukan bentuk kontribusi yang bisa diwujudkan.
Kombes Polisi H. Satori menegaskan pengalaman, kompetensi, jaringan, bisnis dan pengetahuan para tokoh harus diwariskan kepada generasi muda, khususnya santri dan pemuda.
Menurutnya, keberhasilan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi melahirkan manusia yang mampu memberi manfaat.
Rohman menyoroti digitalisasi pesantren melalui FPP Digital dan Learning Management System (LMS). Namun, digitalisasi tidak cukup dengan membangun aplikasi.
Diperlukan SDM, konten, sistem pembelajaran, jaringan pesantren dan kolaborasi antarlembaga.
Wibowo menegaskan teknologi harus menjadi alat pembangunan peradaban, bukan sekadar simbol modernisasi.
POTENSI LOKAL HARUS DIUBAH MENJADI KEKUATAN
Pertemuan juga membedah potensi ekonomi lokal.
Endang Abdul Fattah membawa gagasan FESDULO atau Festival Duren Loji. Komoditas lokal, menurutnya, harus masuk tahap hilirisasi dan dikembangkan menjadi produk, industri, wisata, edukasi hingga ekosistem ekonomi.
Ageng Musalamat memperkenalkan usaha melalui CV Jampe Ageng Trade, antara lain Kurma Ember, Duren Frozen dan Lemari Plastik. Usaha tersebut disebut telah melibatkan hingga 300 ibu rumah tangga dalam kegiatan ekonomi padat karya.
Sementara Kang Opang mendorong lahirnya model retail komunitas yang tidak sekadar mengandalkan semangat sesaat, tetapi memiliki loyalitas konsumen dan ekosistem ekonomi yang kuat.
Gagasan lain yang muncul adalah pemanfaatan sampah sebagai sumber energi melalui pembangkit listrik berbasis sampah.
Intinya, potensi tidak boleh berhenti sebagai potensi. Harus diubah menjadi produk, pekerjaan, nilai ekonomi dan manfaat sosial.
PESANTREN, KAMPUS, USAHA DAN PEMERINTAH HARUS BERGERAK BERSAMA
Zulfikar menekankan pentingnya membangun komunikasi dengan pemerintah. Menurutnya, Wibawa Nusantara harus menjadi jembatan antara pesantren, kampus, dunia usaha, profesional, pemerintah dan masyarakat.
Ustadz Apoy menyoroti masih banyak lulusan pesantren yang belum mampu mengembangkan potensi sehingga memilih menjadi pekerja atau pasrah terhadap keadaan.
Persoalan itu dinilai sebagai tantangan serius bagi pendidikan pesantren.
Santri harus dipersiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan.
Dr. Hapid Maksum menilai gerakan sosial membutuhkan nilai yang jelas dan arah yang kuat agar tidak kehilangan tujuan di tengah perubahan zaman.
BUKAN SEKADAR WACANA, HARUS ADA GERAKAN
H. Ivan Kuntara menegaskan tahap berikutnya harus segera masuk pada aktivasi dan akselerasi.
“Samakan pemikiran, konsep dan tujuan. Kalau sudah satu pemikiran, lakukan aktivasi, kemudian akselerasi.”
Ia mendorong penyusunan Quick Wins, berupa program yang dapat segera dijalankan dan diukur hasilnya.
Pertemuan tersebut menyepakati bahwa persoalan utama bukan kekurangan potensi, melainkan lemahnya koneksi antarpotensi.
Pesantren memiliki SDM. Kampus memiliki ilmu. Dunia usaha memiliki modal. Profesional memiliki kompetensi. Pemerintah memiliki kewenangan. Masyarakat memiliki kekuatan sosial.
Wibawa Nusantara diarahkan menjadi ruang yang menghubungkan seluruh kekuatan tersebut. Dari koneksi lahir kolaborasi. Dari kolaborasi lahir kekuatan. Dari kekuatan lahir kemandirian. Dari kemandirian lahir kewibawaan.
Pertemuan 30 Agustus 2026 menjadi titik awal. Wibawa Nusantara dituntut segera bergerak dari gagasan menjadi agenda, agenda menjadi program, program menjadi institusi dan institusi menjadi warisan.
Fokus awal diarahkan pada digitalisasi pesantren, pendidikan dan kepemimpinan santri, ekonomi komunitas, agrikultur dan hilirisasi produk, networking antarsektor, riset dan inovasi, energi alternatif serta gerakan sosial.
Cita-cita akhirnya adalah membangkitkan kewibawaan bangsa melalui manusia yang beriman, berilmu, mandiri, produktif dan mampu bekerja bersama.
Iman sebagai kompas. Ilmu sebagai cahaya. Gotong royong sebagai kekuatan. Networking sebagai infrastruktur. Gerakan sebagai energi. Ridha Allah sebagai tujuan.**





