Minggu, Mei 10, 2026
spot_img
spot_img
spot_imgspot_img

Top News

spot_img

Berita Pilihan

Mahkota Binokasih Guncang Karawang, Dedi Mulyadi Serukan Kebangkitan Sunda dan Ultimatum Penataan Kota Semrawut

spot_img
Gubernur Dedi Mulyadi melontarkan kritik keras terhadap kondisi wajah pusat Kota Karawang saat ini yang dinilainya semrawut, kusam serta kehilangan karakter sejarahnya.

BERITA BRANTAS.CO.ID
Kirab Milangkala Tatar Sunda Napak Tilas Padjadjaran Mahkota Binokasih hari ketujuh di Kabupaten Karawang meledak menjadi magnet budaya dan sejarah yang mengguncang perhatian publik, Sabtu malam 9 Mei 2026.

Ribuan warga tumpah ruah menyemut di sepanjang jalur kirab demi menyaksikan langsung Mahkota Binokasih Keraton Sumedang Larang, simbol besar kejayaan tanah Sunda yang selama ini hanya hidup dalam lembaran sejarah.

- Advertisement -

Mengusung tema “Subang Larang Nebar Kaheman”, kirab Milangkala Tatar Sunda Napak Tilas Padjadjaran Mahkota Binokasih bukan sekadar parade budaya, melainkan  penegasan kuat bahwa Karawang memiliki jejak sejarah besar penyebaran Islam dan peradaban Sunda yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Mahkota Binokasih diterima langsung oleh Bupati Karawang, Aep Syaepuloh Sabtu siang. Malam harinya, mahkota sakral itu diarak menggunakan kereta kencana melintasi Jalan Arief Rahman Hakim, Jalan Ir.H. Djuanda hingga jalan Tuparev alun-alun Karawang kawasan Masjid Agung Syekh Quro.

- Advertisement -

Mesjid Agung Syekh Quro ( dulu pesantren Syekh Quro) menjadi titik paling sarat makna dalam kirab tersebut.
Tempat itu tercatat sebagai lokasi pernikahan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang sekitar tahun 1422 Masehi, peristiwa penting yang menjadi pintu masuk penyebaran Islam di Kerajaan Padjadjaran.

Dari pernikahan itulah lahir Raden Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang dan Raden Kian Santang yang kemudian mengubah arah sejarah Pasundan hingga melahirkan Kesultanan Cirebon.

Baca Juga  SMKN 1 Cilaku Buktikan Kualitas, 469 Siswa Lulus 100 Persen dan Siap Hadapi Dunia Kerja

Di hadapan kepadatan manusia Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, Kirab Milangkala Tatar Sunda Napak Tilas Padjadjaran Mahkota Binokasih bukan sekadar acara seremonial kosong atau pesta budaya tanpa makna.

“Ini bukan sekadar karnaval. Ini momentum membangunkan kembali sejarah Sunda yang lama terkubur. Mengembalikan rasa cinta, rasa asih dan kebanggaan terhadap jati diri urang Sunda,” tegas Dedi.

Dalam pidatonya, Gubernur Dedi meminta maaf atas terganggunya akses ekonomi warga seiring berlangsungnya waktu kirab.

Dedi mengapresiasi antusiasnya masyarakat Karawang terhadap pagelaran kirab Tatar Sunda Napak tilas Padjadjaran Mahkota Binokasih yang mengikutinya dengan tertib.

Ditengah pidatonya, Gubernur Dedi Mulyadi melontarkan kritik keras terhadap kondisi wajah pusat Kota Karawang saat ini yang dinilainya semrawut, kusam serta kehilangan karakter sejarahnya.

Ia memastikan, pada tahun 2027 Pemprov Jawa Barat akan melakukan penataan besar-besaran kawasan Jalan Arief Rahman Hakim hingga alun-alun Karawang melalui pembangunan “Pelataran Cinta” dan kawasan Kota Tua Karawang.

Trotoar akan diperbaiki, lampu jalan ditata, kabel semrawut dirapihkan dan tampilan pertokoan akan diseragamkan agar pusat kota Karawang tidak lagi terlihat kumuh amburadul.

“Karawang punya sejarah besar. Tidak boleh lagi wajah kotanya semrawut dan kehilangan marwah budaya,” sindir Dedi disambut riuh tepuk tangan warga.

Tak hanya itu, Dedi juga menegaskan agenda besar penataan Jawa Barat mulai dari pengelolaan sampah, penataan Sungai Citarum, hingga pembangunan kawasan lingkar Sanggabuana dari Bogor sampai Cianjur.

Baca Juga  AHY Warning Keras Pantura Terancam Tenggelam, Lumbung Pangan Nasional Bisa Kolaps

Dalam kesempatan itu, Dedi turut memuji langkah cepat Pemkab Karawang memperbaiki akses jalan rusak di gerbang Tol Karawang Barat dan Karawang Timur yang selama ini membahayakan pengguna jalan.

“Jalan itu sebenarnya kewenangan pemerintah pusat. Tapi karena membahayakan rakyat, langsung diperbaiki Pemkab Karawang. Jalannya oleh Pemkab, jembatannya oleh Pemprov,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Dedi menyerukan agar masyarakat Karawang tidak terus menjadi penonton di tengah kepungan industri besar di daerahnya, melainkan harus bangkit menjadi pemilik masa depan di tanah sendiri.

“Orang Karawang harus jadi tuan di lemburna sorangan. Anak-anak Karawang harus sekolah tinggi, jadi manajer di pabriknya sendiri, jangan terus jadi penonton,” tegas Dedi.

Kirab Milangkala Tatar Sunda Napak Tilas Padjdjaran Mahkota Binokasih di Karawang Sabtu malam akhirnya menjelma menjadi lebih dari sekadar agenda budaya. Ia berubah menjadi panggung kebangkitan sejarah Sunda, kritik terbuka terhadap wajah kota yang semrawut, sekaligus penegasan ambisi besar membangun Karawang sebagai pusat budaya, sejarah dan kehormatan tanah Pasundan.

Mewarnai agenda Kirab malam ini, ditampilkan tarian tradisionil asal 27 Kabupaten / Kota di Jawa Barat. (Pri)

Catatan Redaksi
Artikel ini dipublikasikan secara otomatis dari sumber yang terpercaya dan dapat mengalami pembaruan sesuai informasi terbaru serta klarifikasi dari pihak terkait.

Artkel Lainnya

Nasional

Peristiwa

Populer

Indeks