
KARAWANG -BERITA BRANTAS.CO.ID
Pengukuhan Paskibraka Kabupaten Karawang di Plaza Pemda Karawang, 14 Agustus 2026, membangkitkan kembali kenangan masa lalu Pimpinan Pondok Pesantren Lestari Alam Qur’ani Wibawa Nusantara Ciranggon, KH Muhammad Endang Suratno Wibowo, M.Ed.
KH.Endang, sapaan akrab KH Muhammad Endang Suratno Wibowo, mengaku kembali merasakan suasana ketika dirinya menjalani masa karantina dan pemusatan latihan sebagai Paskibraka.
“Saya ini Purna Paskibraka Indonesia,” ujar KH. Endang, yang kini dipercaya memimpin Forum Pondok Pesantren Kabupaten Karawang.
Menurutnya, Paskibraka bukan sekadar tugas mengibarkan bendera dalam sebuah upacara. Proses latihan yang keras, disiplin, kekompakan, tekanan, kelelahan hingga koreksi berulang merupakan proses panjang pembentukan karakter.
“Paskibraka menempa karakter dan kepribadian. Disiplin bukan sekadar patuh terhadap aturan, tetapi kemampuan mengendalikan diri dan tetap menjalankan tanggung jawab meski tidak diawasi,” tegasnya.
Ia menilai, proses tersebut mengajarkan self-regulation, yakni kemampuan mengatur perilaku, waktu, emosi dan tindakan untuk mencapai tujuan.
Bagi KH Endang, nilai tersebut tidak berhenti ketika masa tugas sebagai Paskibraka berakhir. Justru, nilai disiplin harus berubah menjadi kesadaran dan melekat dalam kehidupan.
“Tujuan akhir pendidikan adalah internalisasi. Seseorang akhirnya mampu berkata kepada dirinya sendiri, saya harus datang tepat waktu meski tidak ada yang mengawasi. Saya harus memperbaiki kesalahan meski tidak ada yang memarahi. Ketika itu terjadi, disiplin berubah menjadi karakter,” katanya.
Pengalaman Paskibraka itu, lanjutnya, juga membentuk keyakinan bahwa kemampuan tidak lahir secara instan. Gerakan yang awalnya sulit dapat dikuasai melalui latihan, tekanan dapat dihadapi melalui pengalaman, dan tugas berat dapat diselesaikan melalui kerja bersama.
Konsep ketekunan tersebut, menurutnya, memiliki relevansi kuat dengan kehidupan. Namun disiplin tidak boleh dimaknai sebagai pemaksaan untuk terus bertahan tanpa arah.
“Disiplin harus memiliki tujuan, nilai dan dibangun dengan cara yang manusiawi,” ujarnya.
Ia kemudian melihat adanya keterkaitan antara nilai Paskibraka dengan pendidikan pesantren.
Jika dahulu dirinya belajar bangun tepat waktu, mengikuti instruksi dan bertanggung jawab terhadap formasi, kini nilai yang sama diterapkan dalam mendidik santri.
“Dahulu saya belajar menjaga kehormatan Sang Merah Putih. Kini saya berusaha menjaga kehormatan ilmu, agama, lembaga pendidikan dan bangsa melalui pendidikan generasi muda,” ungkapnya.
Menurutnya, disiplin di pesantren memiliki ruang yang lebih luas. Santri dituntut bangun tepat waktu,menjaga salat berjamaah, menghafal Al-Qur’an, belajar, menjaga kebersihan, menghormati guru, mengatur waktu dan menjaga adab. Seluruh proses tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni membentuk manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
“Pendidikan yang lebih tinggi adalah ketika seseorang memiliki pengawas di dalam dirinya sendiri. Pengawas itu adalah kesadaran, iman, tanggung jawab dan integritas,” tegasnya.
KH Endang juga menegaskan bahwa patriotisme tidak berhenti dilapangan upacara. Pengabdian dapat diwujudkan melalui berbagai profesi dan peran di tengah masyarakat.
“Dulu lapangan menjadi tempat saya ditempa. Kini pesantren menjadi medan perjuangan saya. Dulu saya belajar menjadi bagian dari sebuah formasi, kini saya belajar membentuk sebuah generasi,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap para Paskibraka Kabupaten Karawang tidak hanya menyelesaikan tugas seremonial. Nilai yang diperoleh selama latihan harus dibawa ke kehidupan setelah seragam Paskibraka dilepas.
“Seragam boleh dilepas, barisan boleh dibubarkan, masa karantina boleh berakhir. Tetapi disiplin, integritas, nasionalisme, kepemimpinan dan patriotisme harus tetap hidup,” katanya.
Ia menilai Paskibraka pada akhirnya bukan hanya tentang bendera, tetapi tentang proses membentuk manusia yang bertanggung jawab terhadap dirinya, kelompok dan bangsa.
“Purna Paskibraka bukan berarti purna dari nilai-nilai Paskibraka. Yang purna adalah masa tugasnya, yang terus hidup adalah semangatnya,” tegas KH.Endang.
“Merah Putih bukan hanya untuk dikibarkan. Nilainya harus diwujudkan. Disiplin bukan hanya diperintahkan, tetapi harus menjadi karakter. Nasionalisme bukan hanya diucapkan, tetapi harus menjadi perilaku.
Patriotisme bukan hanya dikenang, tetapi harus diteruskan.”
Sekali Paskibraka, tetap Paskibraka. Sekali mengabdi kepada bangsa, jangan berhenti memberi arti.**





