Jumat, September 11, 2026
spot_img
spot_img
spot_imgspot_img

Top News

spot_img

Berita Pilihan

Gas Alam Belum Ditinggalkan, Pupuk Kujang Mulai Racik Green Hydrogen

spot_img
penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pupuk Kujang, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), dan China Iron & Steel Research Institute Group (CISRI), Rabu, 9 September 2026./BERITABRANTAS/ ist

KARAWANG — BERITABRANTAS.CO.ID

PT Pupuk Kujang Cikampek tidak serta merta meninggalkan gas alam sebagai sumber hidrogen dalam produksi amonia.

- Advertisement -

Perusahaan justru menempuh transisi energi secara bertahap dengan mulai memadukan energi fosil dan energi terbarukan melalui pengembangan green hydrogen.

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pupuk Kujang, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), dan China Iron & Steel Research Institute Group (CISRI), Rabu, 9 September 2026.

- Advertisement -

Kerja sama ini menjadi pijakan awal pengembangan green hydrogen yang nantinya diarahkan untuk mendukung produksi green ammonia di fasilitas Pabrik 1B Pupuk Kujang.

Selama lebih dari 50 tahun, Pupuk Kujang menggunakan gas alam sebagai sumber hidrogen untuk memproduksi amonia.

Karena itu, transisi menuju energi hijau tidak dilakukan dengan menghentikan penggunaan gas alam secara langsung.

Baca Juga  Tiga Tahun Cuma Janji, Laskar NKRI Ultimatum Keras PT SAI, Bongkar Pintu Air Dan Berdayakan Masyarakat atau Hadapi Aksi Massa Lebih Besar

Sebaliknya, Pupuk Kujang menyiapkan skema hybrid ammonia, yakni mengombinasikan grey hydrogen yang berasal dari gas alam dengan green hydrogen dari sumber energi terbarukan.

“Langkah ini merupakan bagian dari transformasi jangka panjang Pupuk Kujang untuk menekan emisi karbon sekaligus memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku industri pupuk dan kimia nasional,” ujar Yoyon Daryono, Project Manager Proyek Replacement Kujang 1A & Net Zero Emission Pupuk Kujang.

Salah satu sumber energi terbarukan yang dikaji adalah biomassa.

Indonesia memiliki potensi biomassa sekitar 83,4 juta ton per tahun, namun pemanfaatannya baru sekitar 22 juta ton per tahun.

Potensi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk menghasilkan green hydrogen, yang kemudian menjadi bahan baku produksi green ammonia.

Dengan skema tersebut, gas alam masih menjadi bagian dari sistem produksi Pupuk Kujang, sementara porsi energi hijau dikembangkan secara bertahap.

Baca Juga  Kemarau Panjang Cianjur Mencekik Warga, KB FKPPI Rayon 10.07.03 Cibeber Kembali Turun Salurkan 8.500 Liter Air Bersih

Target akhirnya adalah meningkatkan penggunaan energi terbarukan sekaligus menekan emisi karbon tanpa mengganggu keberlangsungan produksi amonia.

Green ammonia sendiri diproyeksikan memiliki peran penting dalam ekosistem energi masa depan.

Selain untuk bahan baku pupuk, amonia hijau dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik, armada maritim, serta kebutuhan industri manufaktur dan kimia.

Kolaborasi Pupuk Kujang, PLN EPI, dan CISRI menjadi langkah awal perusahaan dalam membangun sistem produksi yang lebih rendah emisi. Bukan meninggalkan gas alam secara langsung, melainkan mengurangi ketergantungan secara bertahap dengan memasukkan energi hijau ke dalam proses produksi.**

Catatan Redaksi
Artikel ini dipublikasikan secara otomatis dari sumber yang terpercaya dan dapat mengalami pembaruan sesuai informasi terbaru serta klarifikasi dari pihak terkait.

Artkel Lainnya

Nasional

Peristiwa

Populer

Indeks